Beranda | Artikel
Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 1): Dialog Mukmin dan Kafir Dalam Merespon Nikmat Dunia
17 jam lalu

Allah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan berbagai cara dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta dialog penuh hikmah. Semua metode ini memiliki efek yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus bersemangat menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan dialog yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)

Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita akan mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang dialog dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini memiliki harta melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh harta kekayaannya datang atas sebabnya, bukan karena pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi dialog dengan seorang temannya lelaki mukmin yang membahas nikmat dunia yang telah Allah ﷻ berikan kepada lelaki kafir ini.

Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajir

Allah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dahulu betapa kaya dan nikmatnya harta kekayaan lelaki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)

Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.

Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,

تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ

“Hal itu, demi Allah, adalah hal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya harta dan pengikut yang kuat.” [1]

Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita dunia semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika ia terus berharap memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak akan membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya akan disebutkan di ayat selanjutnya.

Takjub dengan dunia dan ketertipuan

Akan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini karena dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا

“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah lelaki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di dunia ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua akan dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.

Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan ia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,

وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ

“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya keyakinan terhadap Allah, (3) takjub dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”

Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita harus menguatkan empat hal yang menjadi kebalikan dari sebab lelaki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:

1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;

2) Menguatkan keyakinan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;

3) Zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;

4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari kiamat akan tegak serta hisabnya akan berat.

Allah ﷻ berfirman,

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)

Lelaki kafir itu mengira bahwa hari kiamat tidak benar-benar terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah anugerah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan ia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya karena telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.

Keyakinan bahwa ia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ benar-benar yang memberikan nikmat, serta keyakinan seandainya hari akhir benar-benar ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap hal yang lebih fundamental lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari akhirat dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun hal ini benar, ia pun berkeyakinan bahwa ia akan mendapatkan kedudukan yang baik atau yang lebih baik karena Allah ﷻ telah memuliakannya.

Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,

وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا

“Seandainya benar ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya nanti di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, karena sesungguhnya aku adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan kalau bukan karena kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak akan memberikan semua ini kepadaku.”

Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan dunia seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,

وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى

“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا

“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77)

Maka, sikap hal ini bukan lagi hal yang aneh untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak akan pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia karena nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di dunia yang fana ini.

Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di dunia ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membuat seseorang terus tersungkur ke dalam jurang kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan hal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.

Kisah ini juga mengandung pelajaran bagaimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi hal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh karena itu, penting sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode dialog yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] https://tafsir.app/ibn-katheer/18/34


Artikel asli: https://muslim.or.id/111202-tafsir-surah-al-kahfi-ayat-32-44-bag-1.html